Ini Kata Cucu Hasan Al Banna Soal Tragedi Paris

Cucu Hasan Al Banna
Profesor Tariq Ramadan (Foto: Facebook)

bersamaislam.com - Serangan terhadap ibukota Prancis, Paris pada Jumat (13/11/2015) malam, telah membakar sentimen anti-Islam di satu sisi dan sentimen anti-Barat di sisi yang lain. Peristiwa yang merenggut ratusan korban jiwa dan luka-luka itu membelah dunia menjadi dua kelompok.

Baca juga: Video Suara Ledakan di Stadion Stade de France

Tariq Ramadan, profesor Studi Islam Kontemporer di Oxford University, mengatakan pada hari Minggu (15/11/2015), seluruh pihak harus belajar berempati, menguasai diri dan emosi agar ada perlakuan yang sama terhadap siapapun atas nama kemanusiaan tanpa melihat perbedaan.

"Saat melihat kengerian dan kekejaman yang tidak punya hati ini, pikiran melayang kepada para korban yang terluka, keluarga dan teman-temannya. Kepada mereka dan kepada semua orang kami sampaikan ucapan turut berbela sungkawa dan simpati," tulis Tariq di laman Facebook.

"Paris hari ini... ada saat untuk berempati, berkasih sayang dan juga diam. Kebijaksanaan dan kemanusiaan mengajarkan kita untuk menguasai diri sendiri, tidak jatuh pada emosi tertentu akibat serangan di Paris, Beirut dan Istanbul. Ini juga bagi mereka yang di Suriah, Irak, Afghanistan, Afrika, Palestina, Myanmar atau Tibet. Kita harus berusaha keras untuk berempati atau diam. Dan membuka hati dan pikiran agar ada sikap kemanusiaan yang sama untuk seluruh umat manusia," tambahnya.

Baca juga: Solidaritas Pilih Kasih Amerika Serikat dan Dunia Barat Yang Memalukan

Profesor Tariq sebelumnya juga mengecam para pelaku serangan Paris dan memastikan tindakan tersebut tidak diajarkan oleh Islam dan ajaran agama manapun. Serangan ini hanya membuka dusta dari sebuah kelompok yang mengaku melaksanakan kebenaran agama.

"Mereka berteriak Allahu Akbar (Allah Maha Besar) guna membenarkan tindakan tidak berprikemanusiaan. Dengan ini mereka telah mengungkap kebohongan dan kebenaran sekaligus. Kebohongan mereka adalah kaitan antara mereka dengan Islam dan apa yang hendak mereka sampaikan. Tidak ada ajaran manapun yang membenarkan tindakan tersebut. Tindakan ini adalah hasil dari pikiran yang diisi oleh hal-hal paling buruk, atau pikiran tanpa pikiran, dimanipulasi atau merekalah yang memanipulasi. Kebenaran adalah Tuhan dengan rahmat, cinta dan kasih sayang-Nya adalah jauh lebih agung dari kegilaan mereka dan Islam tidak akan berakhir hanya karena dikaitkan atau disamakan dengan tindakan ekstrimis yang mereka lakukan," tegas cucu Hasan Al Banna tersebut.

Dia juga memberikan saran agar pemerintah membentuk front persatuan bersama seluruh lembaga-lembaga termasuk komunitas muslim yang ada di Prancis agar terbentuk sikap saling pengertian dan memahami.

"Reaksi yang benar atas peristiwa ini adalah dengan bergabung dalam satu kekuatan dan membentuk front persatuan. Antara pemerintah Prancis dan seluruh lembaga-lembaga hingga muncul pemahaman dan saling mengerti bahwa warga muslim Prancis adalah bagian dari mereka, bukan para alien yang menjadi objek analisis," pungkasnya.

Tariq Ramadan lahir di Jenewa, Swiss, pada tanggal 26 Agustus 1962 dari sebuah keluarga muslim Mesir. Dia adalah anak dari Said Ramadan dan Wafa Al Banna, yang merupakan putri tertua Hassan Al Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin (IM) pada tahun 1928 di Mesir. Ayahnya adalah figur yang menonjol dari gerakan IM sehingga diasingkan oleh Presiden Gamal Abdul Nasser dari Mesir ke Swiss.

Tariq Ramadan menyelesaikan master di bidang filosofi dan literatur Prancis, kemudian dilanjutkan dengan PhD pada bidang studi Arab dan Islam di Universitas Jenewa.

Saat peristiwa serangan Charlie Hebdo awal tahun 2015 yang lalu, Profesor Tariq juga mengingatkan dunia bahwa serangan pembunuhan itu memang harus dikutuk, tetapi ada harus ada perlakuan yang sama diberikan kepada semua kehidupan manusia. (ay)