Solidaritas Pilih Kasih Amerika Serikat dan Dunia Barat Yang Memalukan

Kemanusian pilih kasih Amerika Serikat dan Dunia Barat
Ilustrasi

bersamaislam.com - Saya berduka untuk Paris. Saya juga berduka untuk sikap Hipokrit. Saya berduka untuk seluruh dunia.

Oleh: Claire Bernish

Untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari setahun, kita semua secara de facto menjadi warga Paris - melalui profil Facebook, casino dan semua bangunan yang berubah warna menjadi bendera Prancis biru, putih dan merah. Solidaritas sebagai bentuk rasa simpati, sebuah pesan kepedihan, bahwa kemanusiaan berdiri tegak bersama Paris.

Sikap yang akan menentukan balasan atas 'pembunuhan massal' tidak terduga. Yang dituduhkan kepada 'mereka', pihak yang sebagian besar tidak akan pernah menjadi korban sebuah kekejaman.

Sebagian besar?

Saya berduka untuk Paris, para korban dan keluarganya. Tapi saya menolak untuk 'menjubahi' diri dengan nasionalisme ala Amerika Serikat.

Karena disamping korban-korban di Paris, sejumlah orang yang tidak terhitung sedang berduka di sebuah tempat dimana lidah kita kelu - apakah karena kekejaman memang tidak terjadi di sana? - dan mayoritas tidak mengira apa warna bendera mereka.

Ya, saya juga berduka untuk mereka yang terbunuh beberapa jam sebelum tragedi Paris, sebuah serangan serupa yang terjadi di Beirut.

Saya berduka atas ratusan ribu pengungsi atau korban jiwa di Suriah, tidak peduli mereka kelompok apa, tidak peduli agama mereka. Tidak peduli.

Saya berduka atas jutaan orang yang terbunuh atas agresi ilegal Amerika Serikat di Irak dan mereka yang menghadapi penyiksaan hingga tewas atas nama 'penggalian uranium' yang melanggar hukum internasional dan kemanusiaan.

Saya berduka atas sejumlah orang yang tewas tidak terungkap karena kelicikan Amerika Serikat di perang Afghanistan. Atas korban anak-anak yang tidak terhitung. Dan para pasien, staf medis yang menjadi target bom dan penembakan di rumah sakit Sans Frontieres, Kunduz.

Saya berduka untuk Palestina, mereka yang tanah kelahirannya dirampas, mereka yang hidupnya dan harta bendanya dan keluarganya dan rasa amannya dan rumahnya di kepung dan diduduki oleh negara teroris yang ilegal.

Saya berduka atas seluruh korban teror, apakah yang disponsori sebuah kelompok atau negara, tidak peduli lokasinya dan loyalitasnya. Dan saya juga berduka atas mereka yang akan menjadi korban teror berikutnya, seperti diperingatkan oleh Presiden Prancis, Hollande, membalas hanya akan melahirkan kekejaman perang yang lain.

Ya saya berduka untuk Paris.

Namun saya melakukannya dengan rasa malu atas kekejaman, sikap xenophobia (ketakutan) dan tudingan-tudingan dunia Barat atas negara lain yang tidak terhitung jumlahnya. Atas komentar-komentar arogan dari politisi dan media mereka paska tragedi, yang berteriak-teriak memalukan untuk mengeksploitasi kesedihan para korban.

Saya berduka untuk Paris dengan rasa malu atas perang terorisme yang tak kunjung usai, dan dunia Barat yang entah bagaimana belum juga memutuskan bahwa semua teror ini akan berakhir hanya jika mereka mau berhenti PERANG.

Kesedihan ini sudah sangat melelahkan dan saya hampir kehabisan air mata.

Karena itu ingat saja para korban ini dalam pikiran - setiap pria, wanita, anak-anak yang menderita, mengalami horor dan kematian yang 'dibutuhkan' dalam peperangan - saat anda memaklumi sikap politisi terhadap perang karena terlihat sangat menjanjikan.

Dan kibarkan bendera itu dari profil media sosial anda, dari rumah anda, dan pikiran-pikiran anda. Karena selama anda mengenakan satu bendera, usaha anda untuk berdiri bersama para korban teror adalah solidaritas yang paling memalukan.

*Diterjemahkan secara bebas oleh Ahmad Yasin