bersamaislam.com - Gaza — Dunia kembali diguncang oleh pernyataan mengerikan dari pejabat Israel. Menteri Warisan Israel, Amichay Eliyahu, menyatakan bahwa Gaza harus dibersihkan dari warga Palestina dan diubah menjadi wilayah Yahudi. Pernyataan ini dikutip dari media Israel dan mendapat kecaman keras dari berbagai pihak karena dinilai sebagai bentuk pembersihan etnis.
Sementara itu, kondisi di Gaza kian memburuk. Dalam satu hari terakhir, lebih dari 80 jenazah masuk ke rumah sakit. Serangan udara terbaru bahkan menyasar sekolah yang dijadikan tempat pengungsian, menewaskan seorang anak laki-laki berusia 11 tahun, dan beberapa warga lainnya.
Total korban tewas kini hampir mencapai 60.000 jiwa. Sebagian besar adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Tak hanya itu, warga Gaza juga menghadapi kelaparan akut. Blokade yang diterapkan Israel membuat bantuan makanan sulit masuk. Anak-anak menderita kekurangan gizi, dan warga terpaksa bertahan hidup dengan memakan sisa makanan atau dedaunan. PBB menyebut situasi ini sebagai bencana kemanusiaan yang disengaja.
Di tengah krisis ini, sebanyak 28 negara Barat, termasuk Inggris, Perancis, dan Jerman, menyerukan:
-
penghentian segera perang,
-
dibukanya akses bantuan kemanusiaan,
-
dan penolakan terhadap relokasi paksa warga Palestina.
Perancis menjadi negara G7 pertama yang secara resmi mengakui Palestina sebagai negara merdeka, sebuah langkah berani meskipun ditentang oleh Israel dan sekutunya.
Hamas menyatakan bahwa komunikasi dengan mediator internasional masih berlangsung. Ada kemungkinan perundingan gencatan senjata akan dibuka kembali dalam waktu dekat, namun belum ada keputusan pasti.
Pernyataan ekstrem dari pejabat Israel ini bukan sekadar opini, tapi sinyal nyata bahwa warga Palestina di Gaza sedang menghadapi upaya penghapusan total. Dunia tak boleh tinggal diam. Saat bom terus dijatuhkan dan anak-anak mati kelaparan, umat Islam wajib bersuara, berdoa, dan mendukung saudara-saudara kita di Gaza.
Sumber: Times of Israel, Reuters, El PaÃs, Washington Post, TIME
0 Comments