Izzudin Al-Haddad, “Hantu Al-Qassam” yang Kini Pimpin Hamas


bersamaislam.com - Gaza – Namanya jarang terdengar, wajahnya hampir tak pernah muncul di media. Tapi bagi militer Zionis, Izzudin Al-Haddad bukan sosok biasa. Ia dijuluki “Hantu Al-Qassam” oleh media Barat karena begitu sulit dilacak dan selalu bergerak dalam bayang-bayang.

Kini, ia menjadi pemimpin tertinggi Hamas di Gaza, menggantikan Muhammad Sinwar yang gugur pada Mei 2025.

Sudah enam kali Israel mencoba membunuhnya, tapi gagal. Bahkan, kepala Al-Haddad dihargai 750 ribu dolar oleh Zionis, menjadikannya salah satu target paling dicari.

Otak di Balik Operasi 7 Oktober

Al-Haddad adalah salah satu tokoh penting dalam Operasi Thufan Al-Aqsha (Banjir Al-Aqsa) pada 7 Oktober 2023. Ia mengatur strategi, menggelar pertemuan rahasia dengan para komandan, dan mengeluarkan perintah tertulis. Operasi ini menyebabkan lebih dari 250 warga Israel ditawan, dan dianggap sebagai kekalahan paling memalukan dalam sejarah Israel.

Dari Remaja Gaza hingga Komandan Tertinggi

Lahir di Kota Gaza tahun 1970, Al-Haddad bergabung dengan Hamas sejak tahun 1987. Ia memulai sebagai prajurit biasa di Brigade Qassam, lalu naik menjadi komandan peleton, batalion, hingga komandan brigade.

Ia juga aktif di unit keamanan internal Hamas, al-Majd, yang bertugas memburu mata-mata dan kolaborator Zionis.

Analis politik Palestina, Yousef Alhelou, menyebut Al-Haddad sebagai “pejuang yang cerdas, tangguh, dan dihormati”. Banyak pejuang muda yang bergabung ke Hamas karena keteladanan dan pengaruh pribadinya.

Luka di Hati, Tapi Tak Goyah

Tahun ini, Al-Haddad kehilangan anak dan cucu akibat serangan udara Israel. Putra sulung dan cucunya syahid pada Januari 2025, disusul putra keduanya pada bulan April. Meski begitu, ia tetap tegar.

Seorang mantan tawanan Israel bahkan menyebut Al-Haddad sebagai sosok yang tenang, santun, dan bisa berbahasa Ibrani. Ia bahkan memerintahkan agar buku milik tawanan dikembalikan setelah bebas.

Tegas dalam Prinsip, Terbuka dalam Negosiasi

Meskipun disebut lebih “pragmatis” dibanding pemimpin Hamas sebelumnya, Al-Haddad tetap memegang teguh prinsip: tidak ada gencatan senjata tanpa penarikan penuh pasukan Israel dan pembebasan para tawanan Palestina.

Ia juga ikut mengatur negosiasi pertukaran sandera, dan berupaya memperpanjang masa gencatan senjata sebelum akhirnya runtuh pada Maret 2025.

Kini, di tengah kehancuran Gaza akibat agresi militer yang terus berlangsung, Izzudin Al-Haddad tetap memimpin dari garis depan. Ia menjadi simbol keteguhan dan kecerdasan dalam perjuangan yang belum usai.

Sumber:

Post a Comment

0 Comments