Thomson: Kalau Yesus Disalib, Siapa Yang Mengurus Syurga dan Neraka?

Heboh pertanyaan kepada pendeta kristen dari muallaf Ahmad Thomson yaitu bila Yesus disalib maka siapa yang mengurus syurga dan neraka
Ahmad Thomson

bersamaislam.com Zambia - Seorang muallaf bernama Ahmad Thomson yang memeluk Islam pada tahun 1973 mengungkapkan bahwa ia tertarik memeluk Islam karena cara hidup muslim yang penuh teladan. Sebelum memeluk Islam ia mempunyai pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh para pendeta salah satunya yaitu bila Yesus disalib maka siapa yang akan mengurus syurga dan neraka.

"Saya pertama kali tertarik kepada agama ini saat menghadiri pertemuan dengan para muslim yang ada di kota ini. Saya terkesan dengan cara hidup dan kesopanan mereka. Melalui pertemuan tersebut saya menjadi melihat teladan tersebut dan menjadi lebih tertarik pada Islam sampai aku sampai pada titik di mana aku tidak punya pilihan lain kecuali menerima Islam dengan segala kesadaranku," kata Ahmad Thomson seperti dilansir Wynnechambers pada Jumat (5/8) .

Ahmad Thomson lahir dengan nama kecil Martin Thomson di daerah Fort Jameson, Northern Rhodesia yang sekarang berubah nama menjadi Chipata, Zambia. Ayahnya bekerja pada dinas pemerintah dan kemudian pindah ke Kenneth Kaunda. Keluarganya tinggal di Zambia sampai tahun 1968, setelah itu ayahnya bekerja di kantor PBB di beberapa negara.

Martin dibesarkan sebagai seorang pemeluk Kristen yang taat. Umur 16 tahun pertamanya dihabiskan di Zambia dan Zimbabwe dengan mengenyam pendidikan sekolah lokal. Pada tahun 1966 ia dikirim untuk melanjutkan pendidikan di Inggris. Kemudian ia menyelesaikan studinya di Eastbourne College dan melanjutkan ke Exeter University di mana ia dianugerahi gelar LL.B. (Hons) pada tahun 1972.

Dia sempat bekerja sebagai kondektur bus selama satu tahun. Setelah itu ia pergi merantau ke London untuk mencari meniti karirnya.

"Saya menemukan Islam di sana," kata Ahmad.

Selama sekolah Martin tidak puas dengan dengan semua jawaban dalam agama Kristen.

"Saya diajarkan bahwa pergi ke gereja itu wajib. Aku menyanyikan lagu-lagu dan aku ikut paduan suara, tapi saat aku tumbuh menjadi lebih dewasa, aku punya pertanyaan yang tidak seorang pun bisa menjawabnya yaitu: Jika semua orang sama di hadapan Tuhan, mengapa orang Afrika yang berkulit hitam harus hadir di gereja yang terpisah dengan gereja yang diperuntukkan bagi orang Afrika yang berkulit putih? Terus jika Yesus adalah Tuhan, untuk siapa dia berdoa? Jika Yesus adalah Tuhan, dan jika Yesus disalibkan, maka siapa yang mengurus langit dan bumi? Jika doktrin Trinitas itu benar adanya mengapa tidak disebutkan dalam Perjanjian Lama dan mengapa Yesus tidak mengajarkannya? Apa doktrin itu salah? Mengapa saya harus bertanggung jawab atas kelakuan orang lain yang tindakan tersebut dilakukan ribuan tahun yang lalu? Jika saya sendiri melakukan sesuatu yang salah hari ini mengapa dengan kematian seseorang ribuan tahun yang lalu bisa membebaskan saya dari dosa?," jelasnya.

"Pada usia 12 tahun, saya percaya pada Tuhan dan saya percaya pada Yesus, tapi aku tidak begitu yakin tentang gereja Kristen. Aku pergi ke gereja karena diajarkan bahwa itu wajib, tapi akhirnya saya meninggalkannya saat lulus sekolah. Di universitas saya mulai mencari kebenaran. Saya membaca semua buku. Saya berpikir tentang hidup. Saya mengunjungi kelompok agama yang berbeda-beda. Aku sempat mencoba meditasi transendental selama beberapa bulan. Meditasi tersebut memang menenangkan, tapi gaya hidup saya tidak berubah. Saya menyadari ada sesuatu yang kurang, bahwa saya perlu berubah, tapi saya tidak tahu bagaimana membawa perubahan dalam diriku. Ketika saya menemukan Islam, saya menemukan cara untuk merubah hidup saya sesuai yang saya butuhkan," ujarnya.

Setelah belajar tentang Islam di bawah bimbingan Syaikh Abdalqadir selama beberapa tahun, Ahmad
Thomson kemudian menjadi pengacara pada tahun 1979. Sejak saat itu ia membagi waktunya antara perjalanan dakwah, menulis dan bekerja sebagai pengacara. Dia mengkonsentrasikan dirinya untuk bidang amal, surat wasiat, kerja, diskriminasi dan hukum Islam.

Sekarang dia menjabat sebagai wakil ketua Asosiasi Pengacara Muslim. Pria yang telah menikah dan mempunyai tiga anak ini telah menulis beberapa buku diantaranya Islam Will, The Hard Journey, The
Way Back, The Last Prophet, The Wife of The Prophet, History Revision; Jesus Edition, Islam Prophet, Blood On The Cross (dalam dua volume, For Sake of Christ dan Islam in Andalus), serta Dajjal The Anti Christ.