Buntut Pelarangan Burkini, Warga London Gelar Pesta Pantai di Depan Kedutaan Perancis

Warga kota London memprotes pelarangan burkini di pantai Paris dengan mengadakan pesta pantai di kedutaan Perancis
Warga kota London mengadakan pesta pantai di depan kedutaan Perancis (img:theguardian)

bersamaislam.com London - Puluhan warga kota London memprotes pelarangan burkini (sejenis baju renang untuk muslimah-red) di pantai Paris. Mereka mengadakan aksi sambil menggelar pesta pantai di depan kantor kedutaan Perancis di London. Disamping itu para demonstran yang sebagian besar adalah para wanita melakukan kegiatan olaraga dengan membawa peralatan lengkap termasuk kursi taman plastik. Selain itu mereka juga membawa pasir untuk menambah semarak nuansa pantai di depan kantor tersebut. Semua peralatan yang dibawa berkaitan dengan tema pantai untuk memprotes larangan burkini yang menjadi peraturan daerah di beberapa pantai di Perancis.

Para petugas keamanan setempat menjadi bingung, pasalnya beberapa pengunjuk rasa memakai burqini yang menutupi seluruh tubuh termasuk rambutnya. Sementara para anak-anak bermain bola pantai di siang yang terik itu. Menjelang beberapa saat aksi berjalan, sebuah mobil van berhenti di tempat tersebut dan menurunkan beberapa karung pasir hingga membuat aparat menjadi khawatir.

Seperti dilansir The Guardian pada Jumat (26/8), lebih dari 40 lebih pengunjuk rasa duduk di kursi yang mereka bawa dan memegang plakat yang berisi kecaman terhadap negara Perancis yang semena-mena. Salah satu juru bicara sekaligus salah satu penyelenggara aksi yang bernama Esmat Jeraj mengatakan bahwa pelarangan burkini adalah salah satu bentuk penindasan terhadap minoritas.

"Pelarangan tersebut perlu dipikirkan kembali. Banyak muslimah yang memakainya karena pilihan. Burkini memungkinkan seorang muslimah untuk pergi dan bersantai di pantai sembari menikmati sinar matahari tanpa harus memamerkan auratnya. Hal ini membantu agar para wanita muslimah tidak terpinggirkan," ujarnya.

Pasir pantai yang ditabur di jalan Knightsbridge tersebut bertahan selama lebih dari satu jam, hingga para pendemo menyekop kembali pasir ke dalam karung. Para demonstran berharap untuk meninggalkan pasir tersebut di depan kantor kedutaan, namun mereka bisa diancam dengan pidana pengrusakan jika tidak dibersihkan.

Sebagian peserta aksi ikut dalam protes setelah melihat foto yang disiarkan oleh media Perancis pada hari Rabu (24/8) yang menunjukkan para polisi yang memaksa salah seorang wanita yang memakai burkini di pantai Nice Paris untuk membuka pakaian tertutup tersebut karena bertentangan dengan peraturan daerah setempat. Polisi bersenjata tersebut akhirnya memberikan denda bagi wanita tersebut.

Salah seorang pendeta di Gereja All Saints di Peckham bernama Jenny Dawkins mengatakan ia telah melihat foto-foto tersebut dan merasa bahwa pemerintah Perancis mulai tidak adil memaknai kebebasan.

"Benar-benar mengerikan! Jika yang di foto itu adalah suster yang sedang duduk di pantai, pasti dia tidak akan menjadi sasaran seperti ini," jelasnya.

Di lain kesempatan, Walikota London yang bernama Sadiq Khan, yang merupakan seorang walikota Muslim, mengutuk larangan tersebut dalam kunjungannya ke Paris.

"Saya cukup tersinggung dengan hal ini. Saya pikir tidak ada yang berhak menentukan bagi wanita apa yang bisa mereka pakai dan apa yang tidak bisa. Titik. Simpel saja!," serunya seperti dilansir Evening Standard pada Jumat (26/8).