| Muslim Kuba baru pulang dari mesjid (img:usatoday) |
bersamaislam.com Havana - Saat irama Salsa Kuba mengalun ringan di sepanjang Jalan Obispo Street di bagian tertua dari ibukota Karibia ini, seorang pria berjanggut mengangkat tangan dan menempelkan ke telinga seraya menghadap timur menuju arah Mekkah untuk mengumandangkan azan. Lantunan tersebut menandakan semakin suburnya perkembangan Islam di negara komunis tersebut setelah sempat dilarang sebelumnya.
Ia mengumandangkan azan bait demi bait, membesarkan lafadz "Allahu akbar". Kemudian ia membaca ayat-ayat Al-Quran. Setelah itu di bersama jamaah lainnya membungkuk dan menempelkan kepala, lutut dan tangan di karpet bernuansa Oriental, melaksanakan shalat wajib lima waktu.
Bersama-sama, mereka mewakili kelompok minoritas pengikut Islam yang sedang berkembang di negara yang lazimnya paling tidak mungkin mengembangkan agama, yaitu negara komunis Kuba.
Saat Muslim di belahan bumi lainnya menjalani bulan suci Ramadhan yang dimulai pada awal Juni, mereka juga ikut bergabung dengan komunitas kecil Muslim yang berpopulasi sekitar 10.000 jiwa. Mereka memadukan nilai-nilai Islam dan adat istiadat Amerika Latin di Kuba. Sekarang mereka melantunkan doa sehari-hari di dalam masjid pertama Kuba di sebuah pulau yang lebih dekat dengan tempat peribadatan Katolik dan Santeria.
"Islam telah memegang peranan penting dalam budaya Kuba sejak kedatangan Christopher Columbus ke negara ini. Agama ini datang bersama dengan budak Moor, yang merupakan bagian dari budaya Spanyol," kata Marta Linares Gonzalez (60 tahun) kepada USA Today pada Sabtu (9/7). Ia masuk Islam dan kemudian mengganti nama dengan Fatima.
Tak lama setelah Fidel Castro mengambil alih Cuba pada tahun 1959, para muslim dilembagakan oleh pemerintah komunis, lengkap dengan larangan agama. Gereja Katolik ditutup, sekolah-sekolah agama dari semua jenis dipaksa untuk berkemas dan meninggalkan pulau itu dan setiap hari hanya boleh berdoa kepada Tuhan secara sembunyi-sembunyi.
Setelah beberapa tahun berlalu, pemerintah Kuba mulai mengurangi pembatasan tersebut. Mereka mengizinkan peribadatan Katolik, agama paling dominan di negara tersebut, serta Santeria, yang merupakan campuran dari Afrika, Karibia dan keyakinan Katolik yang telah menjadi populer di seluruh Cuba.
Pedro Lazo Torres, yang dikenal sebagai Imam Yahya, mengatakan dulu sangat sedikit umat Islam di Kuba yang bisa mengadakan ibadah di dalam rumah. Sekarangh ketika Islam mulai tumbuh, syiar mulai muncul di jalan-jalan. Torres kini menjabat sebagai Ketua Liga Islam Kuba. Ia mengatakan jumlah orang Kuba yang ingin bersyahadat terus meningkat.
Sekarang ia menjadi manajemen sebuah masjid yang diresmikan pada bulan Juni 2015 yang merupakan bentuk bantuan dari Presiden Turki, Recep Erdogan. Terletak di Old Havana, masjid yang terletak di samping sebuah museum Islam, yang dikenal sebagai The Arab House, memiliki salinan tulisan Spanyol-Arab yang baru dari Quran.
Torres mengatakan populasi Muslim semakin berkembang karena sebagian siswa setempat melakukan perjalanan ke Kuba dari Chad, Niger, Nigeria dan Rwanda. Setelah gempa bumi melanda Pakistan pada tahun 2005, ratusan warga Pakistan mengungsi ke Kuba dan diberi beasiswa oleh pemerintah setempat.
Namun untuk sebuah negara yang mengalami imigrasi, sebagian besar Muslim di Kuba ternyata mualaf.
"Sembilan puluh sembilan persen dari Muslim Kuba yang masuk Islam bukanlah berasal dari Arab," kata Ahmed Abuero, pemimpin organisasi mesjid setempat. Proses memeluk Islam merupakan salah satu ujian yang sulit untuk Abuero (48 tahun), yang menjadi muslim setelah membaca biografi Malcolm X pada 17 tahun yang lalu.
"Sangat sulit di awal karena saya harus berhenti minum alkohol, melihat perempuan, bermain, makan daging babi dan minum anggur, dan lain-lain. Pada malam saya masuk Islam, saya tidak bisa tidur. Aku tahu hari berikutnya hidupku akan berubah selamanya," jelasnya.
Pria yang berprofesi sebagai guru olahraga tersebut mengatakan ekspansi Islam adalah satu hal yang paling sulit di Kuba dan di seluruh Amerika Latin, yang merupakan wilayah yang paling sedikit pemahaman atau informasi tentang agama Islam.
"Kami tidak memiliki acara TV tentang Muslim atau berita baik tentang Islam, jadi kita chatting dengan orang-orang di luar negeri untuk mengajarkan kami tentang agama ini," ujar Abuero.
0 Comments