Momen Isra' Mi'raj, Aktivis Dakwah Juga Butuh Piknik

momen Isra' Mi'Raj, da'i juga membutuhkan rihlah dan piknik untuk penyegaran
ilustrasi (img: tumblr)

bersamaislam.com - Jika ada orang yang sangat membutuhkan rihlah dan piknik, pasti para da'i dan aktivis dakwah adalah salah satunya. Mereka harus tersenyum dan bersemangat dihadapan jama’ahnya, tak peduli banyaknya masalah yang tengah dihadapi. Mereka harus tegar, sabar dan ikhlas tak peduli dompetnya kering kerontang. Karena mereka adalah orang - orang yang telah berikrar “Wa maa min ajriya illaa ‘alallaah”.

Dai juga manusia, sesekali butuh rihlah untuk menyegarkan suasana jiwa. Jika memang harus rihlah, maka contohlah model rihlah dari Rasulullah. Dari peristiwa Isra Mi‘raj kita mendapatkan beberapa kaidah rihlah bagi seorang muslim, yakni :

Pertama, Dari Masjid Ke Masjid
Rasulullah berangkat Isra “Minal masjidil haram ilal masjidil Aqsha”. Dari masjid yang pertama kali dibangun (oleh Nabi Ibrahim), ke masjid yang kedua yg dibangun (oleh Nabi Ya’qub). Masjid sendiri adalah tempat yang paling disukai oleh rasulullah. Saat mau safar beliau berangkat dari masjid, pulangnya pun ke masjid terlebih dulu sebelum pulang ke rumah.

Suatu ketika, Ali bin Abu Thalib ra tengah bertengkar dengan istrinya. Maka beliau pun menuju ke masjid dan tidur di dalamnya. Saat didapati oleh rasulullah dengan punggung penuh debu tanah, maka Ali dipanggil dengan nama “Abu Thurab”. Ali bin Abu Thalib berkata, itulah nama panggilan yang paling disukainya, semata - mata karena rasulullah yang memanggilnya demikian.

Kesimpulannya, masjid menjadi tempat favorit orang beriman, baik dalam kondisi bahagia dan ingin beribadah, maupun sedih dan butuh hiburan. Sedangkan orang - orang fasik, mereka cenderung senang ke tempat hiburan (diskotik, bar, dll), baik dalam kondisi senang maupun bete. Jika saat ini antum tengah berlibur, jangan lupa mengagendakan untuk mendatangi masjid. Utamanya masjid bersejarah, masjid agung, masjid kuno atau kalau perlu masjid yang tidak dikenal yang terpencil ditengah sawah.

Kedua, Bertemu Rekan Seperjuangan
Rasulullah ditemani oleh malaikat dan bertemu dengan ruh para nabi, baik di Masjid Al Aqsha maupun dilangit. Satu riwayat menjelaskan mereka shalat berjama’ah di Al Aqsha dan Rasulullah menjadi imamnya. Di langit, mereka saling berbalas salam dan memberi nasihat atas suatu amalan.
Sebagaimana nasihat Nabi Musa kepada Rasulullah tentang amalan shalat, jika hati mulai suntuk dan kepala mulai penat, maka sudah saatnya kita melakukan amalan - amalan yang mendatangkan malaikat. Yap benar, kita bisa mengundang malaikat ke rumah kita, khususnya malaikat rahmat. Tilawah qur’an, dzikir dll adalah amalan yang mengundang malaikat. Jika yang datang malaikat, maka hati menjadi nyaman, tenang dan tumbuh semangat beramal. Sebagaimana rasulullah setelah didatangi oleh malaikat Jibril, maka beliau semakin dermawan bahkan melebihi angin yang berhembus.

Sedangkan orang - orang fasik, dikala marah, suntuk dan feeling blue kadang bukan mengundang malaikat rahmat tapi malaikat pembawa azab. Atau malah mengundang malaikat maut. Yakni dengan menumpuk dosa dan maksiat sebagai upaya untuk lari dari kenyataan hidup. Mulai dari khamr hingga narkoba, yang seringkali berujung pada kematian.

Demikian pula bertemu dengan rekan sejawat dan seperjuangan, saling berwasiat khususnya kebaikan dan taqwa. Bertemu dengan mereka membuat kita “tidak merasa berjuang sendiri”. Karena ditempat lain ternyata banyak pula yang cobaannya lebih berat, pengorbanannya lebih besar dan keikhlasannya dalam berjuang lebih tinggi. Kita pun bisa menimba ilmu dan pengalaman dari mereka.

Jika saat ini antum tengah berwisata, jangan lupa untuk mengunjungi sahabat lama sesama aktivis dakwah, kyai dan ustadz serta para habaib dan ulama. Kunjungi pula panti asuhan, ma’had dan pondok pesantren yang mereka bina. Jangan lupa, mintalah ilmu, nasehat, wasiat dan doa dari mereka. Jika antum belum berkeluarga, boleh sekalian minta agar dijodohkan dengan anaknya atau santrinya, hehe.

Ketiga, Mengambil Ibrah
Rasulullah sempat melihat isi surga dan neraka. Melihat bagaimana kenikmatan dan siksaan didalamnya serta amalan dan dosa apa yang membuat manusia masuk ke dalamnya. Bagi sebagian kalangan, inilah dalil bahwa surga dan neraka sudah diciptakan. Karena dulu sudah pernah dimasuki oleh Nabi Adam dan Rasulullah. Ini penting untuk dipahami, karena adapula sebagian ulama yang berpendapat bahwa surga dan neraka yang hakiki saat ini belum diciptakan. Tapi diciptakan nanti setelah hari kiamat.

Bukan berarti kita harus tamasya ke mall dan penjara sebagaimana manifestasi surga dan neraka dunia. Tapi maksudnya, kita harus mampu mengambil ibrah atas setiap tempat yang kita kunjungi. Sehingga memiliki bekas yang positif, baik untuk meningkatkan amalan maupun menjauhi dosa. Alhasil, tamasya bukan sekedar me-refresh kondisi psikis tapi juga men-charge semangat beramal.
Khatimah

Pasca Isra Mi‘raj, rasulullah semakin kuat dan tangguh. Sejarah mencatat, pasca Isra Mi‘raj-lah Rasulullah mulai intensif semangat dalam dakwah. Meski dakwah ke Thaif sebelumnya berakhir pilu, namun beliau bersemangat untuk membangun basis pergerakan di Madinah. Disanalah kelak Allah memberikan kemenangan dan kejayaan.

Bisa jadi, setelah rihlah kita memiliki baru tentang metode dakwah yang akan kita tempuh, wilayah baru yang akan kita sentuh maupun rekan-rekan baru yang akan membersamai. Inilah diantara esensi tamasya Rasulullah melalui sarana Isra Mi’raj. Semoga inipula hal positif yang bisa kita petik pasca libur panjang dipekan ini. Amin.

Judul asli: Kaidah Rihlah
Penulis: Eko Jun