Assad Langgar Gencatan Senjata, 250 Warga Suriah Tewas Dihujani Bom Barel dan Senapan Mesin

Angkatan Udara Suriah Assad hancurkan sekolah dan warga sipil dengan bom barel serangan udara dan senapan mesin sehingga merenggut 250 nyawa
Seorang warga sedang menyelamatkan seorang bocak korban serangan udara Assad (img: observer)

bersamaislam.com Aleppo - Ketua Dewan Kota Aleppo, Brita Haji Hasan, menunjukkan photo yang ada di telepon genggamnya. Ia menunjukkan mayat Hasan Amory, berusia 29 tahun, ayah dari dua orang anak yang masih kecil sekaligus menjabat sebagai dewan insinyur yang telah terbunuh oleh serangan rudal angkatan udara Suriah di bawah komando Bashar al-Assad saat ia sedang beraktifitas dalam pekerjaannya pada Jumat (29/4).

"Kami telah mengalami pembantaian setiap hari selama enam atau tujuh hari," kata Haji Hasan seperti dilansir The Guardian saat wawancara di kota Gaziantep, 30 mil dari perbatasan Suriah pada Sabtu (30/4).

"Mereka menghancurkan sekolah dan menyasar warga sipil menggunakan bom barel, serangan udara dan senapan mesin. Rekan saya juga tewas, padahal kemarin saya baru saja berbicara dengan dia melalui aplikasi Skype," ujarnya.

Sebagai pemimpin sipil paling senior di Aleppo, Haji Hasan telah mencoba untuk membuat lingkungan menjadi layak huni, dan menurutnya hal itu sangat mustahil dan berbahaya dengan kondisi konflik seperti ini.

"Ini adalah situasi yang sangat mengerikan. Tapi kita berusaha untuk hidup," jelasnya.

Ia mengatakan, sebelumnya ia berada di Turki tepatnya di kota Gaziantep sebelum ia ditahan. Intelijen suku Kurdi mengetahui keberadaannya saat ia mencoba memasuki kota Aleppo.

Sejak melanggar Perjanjian Gencatan Senjata semenjak delapan hari yang lalu, rezim Assad telah meluncurkan lebih dari 260 serangan udara, 110 artileri, 18 rudal dan telah menjatuhkan 68 bom. Hal tersebut diamini oleh organisasi pertahanan sipil di Suriah yang dikuasai oleh pihak oposisi yang dikenal sebagai White Helm.

Serangan udara tersebut juga menghancurkan fasilitas medis dan pompa air sehingga pasokan air ke pusat kota menjadi terancam. Selain itu, pada hari Kamis (28/4) bom juga meluluhlantakkan sebuah rumah sakit yang dibangun oleh Médecins Sans Frontières dan Komite Palang Merah Internasional. Pemboman tersebut menewaskan satu-satunya dokter anak  di kota itu bersama dengan 26 orang lainnya, termasuk tiga orang anak-anak.

Sementara itu Menteri Luar Negeri AS John Kerry mendesak kembali ke gencatan senjata di Suriah dan mengatakan serangan di Aleppo harus segera dihentikan.

"Sekretaris menyatakan keprihatinan yang mendalam atas situasi yang memburuk di Aleppo, di mana rezim (Presiden Bashar al-Assad-red) terus meningkatkan konflik dengan menargetkan warga sipil tak berdosa," kata juru bicara John Kirby.

Komisaris PBB untuk Hak Asasi Manusia, Pangeran Zeid Ra'ad Al Hussein, pada Sabtu (30/4) ikut mengutuk penyerangan tersebut.

"Sangat mengerikan hidup warga sipil di Suriah. Semua pihak telah mendesak untuk kembali mengadakan gencatan senjata," tegasnya.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, sebuah kelompok pemantau yang berbasis di Inggris, menyebutkan bahwa warga sipil yang menjadi korban tewas di Aleppo sejak 22 April mencapai 250 orang.