Kisah Nyata Pengungsi Asal Palestina Menjadi Penulis Best Seller di Kanada

Pengungsi Palestina jadi penulis, wartawan, pembicara publik, pemenang Tomorrow Global Leader Award serta penulis buku trilogi terlaris
Chaker Khazaal (img: savilerowsociety)
bersamaislam.com New York - Tidak banyak yang mengetahui, Chaker Khazaal, 28, seorang warga Kanada yang terpilih sebagai "Man of The Year" ini ternyata adalah seorang yang berasal dari Palestina dan tinggal di kamp pengungsian.

"Saya suka tinggal di kamp pengungsian," ujarnya.

"Saya benci ketidakadilan hidup, namun saya punya begitu banyak teman di kamp tersebut. Ada dua puluh ribu orang yang tinggal di sana termasuk sepupu, keluarga, dan yang lainnya. Ini adalah perjuangan, tapi saya tidak akan mengatakan hal tersebut adalah perjuangan terbesar saya," ujar pemuda yang merupakan generasi ketiga dari pengungsi Palestina tersebut.

Meski hidup sebagai pengungsi, ia sukses menjadi seorang penulis, wartawan, pembicara publik, pemenang Tomorrow Global Leader Award yang bergengsi, serta penulis buku trilogi terlaris 'Confessions of a War Child'.

Khazaal dibesarkan di sebuah kamp pengungsian di Beirut selama perang saudara Lebanon dan akhirnya merantau untuk belajar produksi film di York University, Toronto.

"Kalian akan menertawakan ini, tapi jujur saja, perjuangan terbesar saya dalam hidup adalah istirahat," kelakarnya seperti dilansir Arabian Business, Senin (28/3) .

Setiap pemuda pasti pernah menjalin hubungan cinta dan kemudian patah hati. Cerita seperti ini merupakan kisah biasa, namun Khazaal menceritakan kisah tersebut menjadi lebih menantang dan menarik dikarenakan memakai sudut pandang seorang pengungsi.

"Pengungsi itu seperti yang digambarkan media. Mereka orang-orang miskin yang menjadi korban. Mereka miskin karena mengungsi dan tidak memiliki rumah. Namun ada juga wajah pengungsi yang tidak mendapatkan perhatian di media, dan itulah kisah pengungsi jatuh cinta, menikah atau mengadakan pesta," katanya.

Sekarang ia fokus pada proyek video dokumenter berjudul 'Love Under Bullets' yang merupakan sebuah proyek yang mengisahkan cerita cinta dari pengungsi di daerah konflik.

"Tidak harus seperti cinta Romeo dan Juliet, atau cinta antara kakak, adik, teman, antara keluarga, antara kekasih. Romantis itu di hati sehingga tak perlu fokus pada hal lain. Saya ingin bilang bahwa istilah pengungsi itu tidak ada, anda adalah orang-orang normal. Saya ingin memberitahu bahwa mereka seperti orang lain di dunia. Siapa yang tidak jatuh cinta? Siapa yang tidak patah hati?" jelasnya.

Khazaal berasal dari kamp pengungsi Bourj El Barajneh di Lebanon. Kakek neneknya yang pertama kali menetap di sana setelah mengungsi dari Palestina. Dia dan orang tuanya lahir di kamp pengungsian. Namun karena aturan ketat negara setempat sehingga tidak dapat dianggap warga negara Lebanon.

Ia dan para pengungsi Palestina lainnya dilarang atas hak-hak dasar, termasuk dilarang berprofesi tertentu dan terbatasnya akses pendidikan, termasuk kesehatan dan pelayanan publik. Ada lebih dari 1,5 juta pengungsi yang tinggal di 58 kamp pengungsi yang berada di Lebanon, Yordania, Suriah, Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Khazaal diangkat oleh sineas Palestina bernama Hisham Kayed sebagai seorang anak. Setelah membintangi film dokumenter 'Sugar From Jaffa', Kayed membantunya mengajukan beberapa beasiswa universitas. Beruntung York University di Toronto menerima dan memberinya kesempatan untuk mengajukan kewarganegaraan di negara Kanada.

Kini penulis trilogi terlaris tersebut baru saja dinobatkan sebagai  'Man of the Year' majalah Esquire di Timur Tengah.

Tampaknya Khazaal tidak hanya puas dengan bermimpi besar untuk dirinya sendiri, tetapi ia tetap berkelana untuk menginspirasi orang lain. Dan proyek terbarunya, Love Under Bullets, merupakan salah satu awal dari karir inspirasionalnya. (mh)