Nabi Luth dan Kemusnahan Kaum Gay

Kaum LGBT di jaman nabi Luth
Ilustrasi kehancuran kota Sodom

bersamaislam.com - Sejarah mencatat Nabi Ibrahim as meninggalkan Mesir didampingi keponakannya yang bernama Luth as, yang kemudian pergi ke kota Sodom, yang berada di sebelah pantai barat Laut Mati.

Kota ini dipenuhi dengan berbagai kejahatan. Penduduknya gemar merampok dan membunuh pendatang yang singgah ke daerah mereka. Kejahatan lain yang paling sering terjadi antara mereka adalah laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki dan bukan dengan perempuan. Tindakan abnormal ini kemudian dikenal sebagai istilah sodomi (merujuk ke kota Sodom). Perilaku itu dipraktekkan secara terbuka dan tanpa malu-malu.

Di saat para penghuni kota Sodom berasyik masyuk dengan perilaku hina tersebut, Allah menurunkan Nabi Luth as agar mendakwahi mereka untuk meninggalkan perilaku tidak senonoh tersebut. Namun mereka sudah tenggelam terlalu jauh ke dalam kebiasaan amoral dan mereka mengacuhkan ajakan Nabi Luth. Bahkan ketika Nabi Luth memperingatkan mereka dari hukuman Allah, mereka malah mengancam akan mengusir Luth ke luar kota jika dia terus berkhutbah.

Allah SWT berfirman:

"Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul, ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka, mengapa kamu tidak bertakwa, sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku, dan aku sekali-kali tidak meminta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam." (QS As-Syu'ara ayat 160-171)

Tingkah polah kaumnya membuat Luth bersedih hati. Namun walaupun beberapa tahun telah berlalu, ia tetap bertahan dalam misinya meski belum membuahkan hasil. Tidak ada yang menanggapi ajakan nabi Luth bahkan di rumahnya sendiri, kecuali anaknya. Istri yang ia cintai malah tidak mau mempercayai ajakan mulia tersebut.

Kewalahan dan putus asa, Luth kemudian berdoa kepada Allah agar memberinya kemenangan dan menghancurkan kemaksiatan yang telah merajalela. Para malaikat langsung menuju Sodom, kota Luth as. Mereka tiba di perbatasan kota pada sore hari. Orang pertama yang melihat mereka adalah putri Luth, yang duduk di tepi sungai sambil mengisi kendi dengan air. Ketika dia mengangkat wajahnya dan melihat mereka, ia tertegun dan berpikir ini mungkin orang paling ganteng yang muncul di bumi.

Salah satu malaikat yang menyamar menjadi manusia bertanya, "Wahai gadis, apakah ada tempat untuk beristirahat?"

Kemudian si gadis menjawab, "Tetaplah di sini dan jangan masuk ke kota sampai aku memberitahu ayah hingga aku kembali".

Meninggalkan buyungnya di tepi sungai, ia dengan cepat berlari pulang. "Wahai ayah," dia menangis, "ayah dicari oleh laki-laki muda di gerbang kota dan aku belum pernah melihat wajah mereka!"

Luth merasa tertekan dan ia berlari cepat ke tamunya. Dia menanyakan darimana asal mereka dan kemana mereka akan pergi.

Mereka tidak menjawab pertanyaan Luth. Sebaliknya mereka bertanya apakah ia bisa menjadi tuan rumah bagi mereka. Luth mulai berbicara tentang kondisi kaumnya. Ia ingin meyakinkan tamunya tanpa menyinggung perasaan mereka, bukan masalah menghabiskan malam di sana, namun pada saat yang sama ia ingin memberi keramahan yang biasanya diberikan kepada tamu.

Sia-sia Luth mencoba membuat mereka memahami situasi berbahaya di kotanya. Akhirnya, Luth meminta mereka untuk menunggu sampai malam, agar tidak ada yang melihat mereka.

Ketika menjelang malam, Luth membawa tamu Malaikat itu ke rumahnya. Tidak ada yang menyadari kehadiran mereka. Namun, segera setelah istri Luth melihat mereka, ia menyelinap keluar rumah diam-diam tanpa ada yang melihat.

Dengan cepat ia berlari menyebarkan berita ke semua penduduk. Orang-orang bergegas menuju rumah Luth dengan cepat dan penuh semangat. Banyak yang terkejut ketika mereka bertemu tamunya Luth yang mengagumkan.

Ketika Luth melihat gerombolan warga mendekati rumahnya, ia langsung menutup pintu, namun mereka terus menggedor. Luth memohon kepada mereka agar meninggalkan tamunya dan agar takut pada hukuman Allah. Luth mendesak mereka untuk mencari kepuasan seksual dengan istri-istri sah mereka, karena itu adalah apa yang telah Allah halalkan bagi mereka.

Orang-orang yang datang menunggu sampai Luth selesai dengan ceramahnya, dan kemudian mereka tertawa terbahak-bahak. Karena dibutakan oleh nafsu, mereka mendobrak pintu. Mereka menjadi sangat marah, namun Luth berdiri tak berdaya, ia tidak mampu mencegah serbuan warga pada tamunya, namun ia tetap berdiri dan terus memohon pada massa yang datang.

Pada saat terjepit itu, Luth berharap memiliki kekuatan untuk mendorong mereka menjauh dari tamunya. Melihat Luth dalam keadaan tak berdaya, para tamu berkata, "Jangan cemas atau takut, kami malaikat, dan orang-orang ini tidak akan merugikan Anda".

Mendengar hal tersebut, massa sangat ketakutan dan melarikan diri dari rumah Luth. Mereka lari sambil mengancam Luth. Para malaikat memperingatkan Nabi Luth as agar meninggalkan rumahnya sebelum matahari terbit, dengan membawa semua anggota keluarga kecuali istrinya.

Allah telah menetapkan seketika saat itu kota Sodom hancur binasa. Gempa bumi dahsyat mengguncang seluruh kota. Seolah-olah sebuah kekuatan besar telah mengangkat seluruh kota dan melemparkannya ke bawah dalam satu sentakan. Badai hujan juga ikut melanda. Semua orang dan semua bangunan hancur, termasuk istri nabi Luth as. (mh)