Leonardus from Flores, Meski Buta Tetap Gigih Berjualan

Leonardus dari Flores

bersamaislam.com - LEONARDUS DARI FLORES. Senin (25/01/2016) pagi, seperti biasa laju motor harus lebih cepat dari hari lain. Macet = Telat. Masuk Kali Malang semakin laju. Selintas terlihat ada pria sedang kepayahan mengetatkan tali rafia yang terselempang di tubuhnya.

Saya berbalik arah. Penasaran.

Setelah dekat saya sadar kalau dia tuna netra. Pantas kelihatan susah walau hanya mengetatkan seutas tali. Ternyata tali rafia tadi tersambung dengan puluhan bungkus Kerupuk Bangka.

“Saya bantu bang,” sambil langsung meraih tali dan mengetatkannya.

Dengan sedikit terkejut dia hanya mengangguk dan tersenyum.

“Sudah lama dagang?” tanya saya sambil mengetatkan tali rafia di dadanya.

“Baru dua tahun,” jawabnya masih dengan senyum.

“Sendiri aja?”

“Iya”

“Setiap hari dagang?” kali ini tali rafianya sudah berhasil saya ketatkan. Bungkusan kerupuk tak lagi melorot ke bawah.

“Iya”

“Tinggal di mana?”

“Ngontrak di Kali Malang,” jawabnya masih dengan senyum

“Rutenya kemana aja?”

“Dari Kali Malang ke BKT” kini tangannya sudah leluasa memegang tongkat.

“Bisa sendiri?” tanya saya sekali lagi

“Sudah biasa. Sudah hapal,” katanya lagi. Saya mengangguk

“Nama abang siapa?” tangan saya mulai memilih-memilih kerupuk.

“Leonardus...,” jawabnya, masih dengan senyum yang sama.

LEONARDUS namanya. Asli Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada tahun 2000 yang lalu, merantau ke Bandung menjadi tukang pijit sembari kuliah di UPI (Universitas Pendidikan Islam) Bandung. Karena keterbatasan biaya dia harus tinggalkan kuliah. Padahal katanya tinggal menyelesaikan skripsi.

Dua tahun lalu ke Jakarta dan mulai berjualan kerupuk Bangka. Dia menceritakan kisahnya, seperti orang tak buta. Merantau ribuan kilometer ke Bandung lalu ke Jakarta, dengan nada sama seperti orang normal kebanyakan (yang punya penglihatan).

Mungkin ini yang namanya BERSERAH DIRI. Sesuatu yang bahkan oleh Nabi-pun susah diraih.

(Oddi Arma)