3 Hal Yang Harus Dilakukan Saat Mengunjungi Orang Sakit

orang sakit
Ilustrasi

bersamaislam.com - Mengunjungi orang sakit kerap kita lakukan, apalagi jika yang mengalaminya adalah keluarga, sahabat dekat atau tetangga. Lantas saat berkunjung, apa yang sebaiknya kita lakukan? Hanya mengobrol, berbicara, bercanda dan menghibur?

Bagaimana tuntunan Nabi Muhammad SAW dalam masalah ini? Dirangkum dari kitab Al-Adzkar karya ulama besar Imam Nawawi, berikut tiga hal yang hendaknya kita lakukan saat menziarahi orang sakit, mencontoh apa yang pernah dilakukan atau dipesankan oleh beliau SAW.

1. Menanyakan keadaan si sakit

Sunnah menanyakan keadaan si sakit baik langsung atau lewat keluarga dan orang lain yang telah lebih dulu berkunjung. Dengan pertanyaan seperti, "apa kabar?" atau "bagaimana kondisinya sekarang?" atau kalimat lainnya.

روينا في صحيح البخاري، عن ابن عباس رضي اللّه عنهما؛ أن عليّ بن أبي طالب رضي اللّه عنه خرج من عند رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم في وجعه الذي توفي فيه، فقال الناس‏:‏ يا أبا حسن‏!‏ كيف أصبحَ رسولُ اللّه صلى اللّه عليه وسلم‏؟‏ قال‏:‏ أصبحَ بحمد اللّه بَارئاً

Diriwayatkan secara shahih oleh Bukhari, dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya Ali bin Thalib ra. sekeluarga keluar dari kamar Rasulullah SAW yang sedang sakit menjelang kewafatan beliau, ditanya oleh para sahabat, "Ya Abal Hasan (Ali), bagaimana dengan kesehatan Rasulullah SAW?" Ali menjawab, "Alhamdulillah, beliau dalam keadaan baik-baik saja".

Jika bertanya langsung kepadanya, maka Nabi Muhammad SAW menganjurkan sebagai berikut.

"Dari Abu Umamah, ia berkata bahwa Rasululullah SAW bersabda, cara yang sempurna ketika mengunjungi orang sakit adalah seseorang dari kalian meletakkan tangannya di atas dahi atau tangan orang itu, lalu bertanya kepadanya apa kabarnya". (HR Ibnu Sunni lafal Tirmidzi)

Namun menurut hadits yang lain oleh Ibnu Sunni, diperbolehkan memegang di bagian badan lainnya.

Secara psikologis, sentuhan ini akan memberi dampak positif terhadap si sakit. Menimbulkan rasa nyaman, merasa diperhatikan, diharapkan kesembuhannya, dan emosi lain yang dapat memompa semangatnya untuk berusaha sembuh dari penyakit.

Apalagi jika yang sakit adalah anggota keluarga di rumah, seperti anak-anak, sangat penting untuk dilakukan oleh setiap orang tua.

2. Membacakan surat dan atau doa untuk kesembuhan penyakitnya

Biasanya kita hanya mengucapkan "semoga lekas sembuh" atau "cepat sembuh ya" kepada si sakit. Namun alangkah afdhal nya jika dilengkapi dengan doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW berikut ini.

Dari Aisyah rah.

وروينا في صحيحيهما، عن عائشة رضي اللّه عنها؛أن النبيّ صلى اللّه عليه وسلم كان يُعَوِّذُ بعضَ أهله يمسَحُ بيده اليمنى ويقول‏:‏ "‏اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أذْهِبِ البأسَ، اشْفِ أنْتَ الشَّافِي، لا شِفاءَ إِلاَّ شِفاؤُكَ شِفاءً لا يُغادِرُ سَقَماً‏".‏‏

"Sesungguhnya nabi SAW mengunjungi keluarganya (yang sakit), ia sapukan (kepadanya) tangan kanannya seraya berdoa, "Allahumma rabban naasi, adzhibil ba'sa isyfi antasy syaafi, laa syifaa'a illa syifaauka, syifaa'an laa yughodiru saqoma".

Ya Allah Rabb manusia, hilangkan kesusahan ini sembuhkan dia Engkaulah yang menyembuhkan, tidak ada suatu penyembuhan kecuali penyembuhanMu, kesembuhan yang tidak diiringi oleh sakit susulan.

Dalam prakteknya, doa ini bisa dibaca dalam hati saja selama berkunjung atau dikeraskan. Doa ini juga dapat dibaca saat tidak berkunjung, misalnya selepas shalat fardhu sambil meniatkan untuk si sakit.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW pernah meminta Aisyah rah membacakan untuknya surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas lalu meniupkannya, ketika beliau sedang sakit.

3. Menghibur dan menyenangkan hati si sakit

Orang sakit tentulah berada dalam suasana hati yang kurang baik, gampang emosi, ingin segera sembuh dan dapat beraktifitas normal kembali. Apalagi jika sakit yang parah, bisa timbul berbagai prasangka, seperti menjadi lumpuh atau meninggal dunia. Padahal yang demikian itu justru makin membawa dampak buruk terhadap kesehatan.

Seringkali pikiran-pikiran buruk bisa pergi, dengan satu ucapan yang singkat, dari dokter, orang tua, atau sahabat dekat. Yaitu ketika mengatakan, "Tidak apa-apa, cuma butuh istirahat" atau yang senada.

Nabi Muhammad SAW sendiri mengajarkan ucapan untuk si sakit agar hatinya senang kembali, yaitu sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas.

وروينا في صحيح البخاري، عن ابن عباس رضي اللّه عنهما؛ أن النبيّ دخل على أعرابيّ يعوده قال‏:‏ وكان النبيّ إذا دخل على مَن يعُودُه قال‏:‏ "‏لا بأسَ طَهُورٌ إنْ شاءَ اللَّهُ"‏

"Sesungguhnya nabi SAW datang mengunjungi seorang arab dusun yang sakit. Ia (perawi) berkata: apabila Nabi datang mengunjungi orang yang sakit, ia ucapkan "Tidak apa-apa, mensucikan, Insya Allah".

Dalam hadits yang lain disebutkan, "Apabila kalian datang mengunjungi orang sakit, hiburlah ia dengan lanjut usia. Memang hiburan itu tidak akan menolak ketentuan Allah sedikitpun dan sebaliknya menyenangkan jiwa (hatinya)". HR Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan riwayat yang dhaif namun diperkuat oleh hadits riwayat Ibnu Abbas sebelumnya.

Menyenangkan hati si sakit bisa juga dengan memuji amal saleh yang sudah dilakukannya supaya ia tetap berhusnuzhan kepada Allah.

Sebagaimana diceritakan oleh al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ra, suatu hari Aisyah binti Abu Bakar rah mengadu karena sakit yang dideritanya. Ibnu Abbas ra datang menjenguk lalu menghiburnya dengan memujinya, "Wahai ummul mukminin, engkau telah mendahului kelambatan orang lain dalam membenarkan Rasulullah SAW dan Abu Bakar ra".

***

Selain ketiga hal tersebut, dalam beberapa riwayat yang lain Nabi Muhammad SAW juga disebut suka memenuhi keinginan orang yang sedang sakit, tidak memaksanya untuk makan, dan minta didoakan oleh si sakit karena doanya sedang diijabah Allah.

Selain itu beliau SAW juga mengingatkan orang sakit untuk menepati janji dan bertobat kepada Allah SWT.

Wallahu a'lam bish showab.