Kisah Nyata Persahabatan Difabel Paling Mengharukan di Suriah

kisah nyata persahabatan difabel di suriah
Sameer dan Mohammed

bersamaislam.com Suriah - Ini adalah photo yang pernah diambil di Damaskus, Suriah pada tahun 1889. Yang berbadan kerdil (yang digendong) adalah seorang penganut agama Kristen bernama Sameer. Sedangkan yang menggendong adalah seorang penganut agama Islam yang mengalami cacat penglihatan (buta) yang bernama Mohammed.

Sameer sangat bergantung pada Muhammad untuk keperluan sehari-harinya di jalan-jalan yang sangat sibuk di kota Damaskus. Mohammed juga sangat bergantung pada Sameer untuk membantu merngarahkan jalannya agar dia bisa melewati rintangan-rintangan di jalan raya setiap harinya.

Sebuah persahabatan sejati, salah satu dari mereka bisa berjalan namun tidak bisa melihat. Dan satunya lagi bisa melihat tapi punya keterbatasan untuk berjalan dalam keperluan mencari nafkah setiap harinya. Mereka berdua adalah yatim piatu dan tinggal bersama di ruangan yang sama. Mereka selalu bersama sampai akhir hayat mereka.

Pada hari yang bersejarah dimana ketika itu Sameer tiba-tiba meninggal, Muhammad hanya berdiam diri di kamarnya. Ia sangat bersedih hati dan menangis sejadi-jadinya selama seminggu.

Dia sangat merasa kehilangan, seperti kehilangan bagian tubuhnya yang sangat berharga. Setelah melalui masa-masa kesedihan yang amat berat, akhirnya ia meninggal seminggu setelah sahabatnya meninggal dunia.

Photo ini dikutip dari akun facebook bernama Omar Albach dan menjadi saksi nyata persahabatan sejati dua orang difabel sampai akhir hidup mereka. Photo ini hampir sama seperti peribahasa dari Swedia yang berbunyi: "Ketika orang buta membawa orang lumpuh, mereka akan terus berjalan".

Seperti inilah gambaran Suriah di masa lampau, penuh keakraban, cinta dan perdamaian. Tidak seperti sekarang ini dimana Suriah semakin kacau balau di tangan rezim Bashar Al-Asad yang merupakan penjahat perang yang harus diadili di mahkamah internasional atas kejahatan perang. Lebih dari 250.000 warga Suriah telah kehilangan nyawa selama empat setengah tahun konflik bersenjata.  Yang dimulai dengan protes anti pemerintah yang zalim hingga meningkat menjadi perang skala besar. Lebih dari 11 juta orang telah dipaksa oleh pasukan Presiden Bashar al-Assad untuk meninggalkan rumah mereka.

Pada bulan Juni 2013, PBB mengatakan 90.000 orang telah tewas dalam konflik tersebut. Namun, pada Agustus 2014 angka itu menjadi lebih dari dua kali lipat menjadi 191.000 dan terus naik ke 250.000 pada bulan Agustus 2015, seperti dikutip dari data PBB. (mh)