Gaya Hidup 'Spiritual But Not Religius' Jangkiti Generasi Muda, Apakah Itu?

Spiritual but not religius

bersamaislam.com - "Spiritual but not religious" (SBNR) adalah sebuah istilah yang populer digunakan untuk mengidentifikasi sebuah konsep yang menolak agama-agama tradisional sebagai satu-satunya cara untuk meningkatkan spiritualitas.

Terminologi ini paling banyak dipakai di Amerika Serikat, negara dengan jumlah penganut SBNR sebesar 33%. SNBR lifestyle juga paling banyak dipelajari di Amerika Serikat sama seperti Ietsism atau Somethingism yang muncul di Belanda dan berkembang di Eropa.

Defenisi

SBNR sering digunakan untuk menggambarkan gaya hidup yang anti mesjid, anti gereja, atau anti rumah ibadah yang lain. Penganutnya merasa lebih spiritual dari umat beragama, eklektik secara spiritual, tidak berafiliasi ke agama manapun, pemikir bebas, dan pencari spiritualitas.

Pada tahun 2013, Rabbi Rami Shapiro mengenalkan istilah “Spiritually Independent” atau “Bebas Secara Spiritual” sebagai terminologi baru untuk menggantikan istilah SBNR dengan kalimat yang lebih positif, mencontoh kepada “Politically Independent”, "Bebas Secara Politik".

Generasi muda rentan mengikuti SBNR dari pada generasi tua. Pada bulan April 2010, koran USA Today merilis hasil jika 72% Gen Y di Amerika Serikat mengaku “lebih spiritual dari pada religius”.

Mereka yang menganut paham SNBR memiliki filosofi dan praktek spiritual serta referensi ketuhanan yang berbeda-beda. Namun tetap mengacu kepada sebuah kekuatan yang lebih tinggi melampaui realitas alam, tanpa memihak ke agama manapun. Di Amerika Serikat, kebanyakan SBNR tidak memiliki agama tapi tetap percaya kepada Tuhan.

Religius dan spiritual

Spiritual diasosiasikan dengan alam berpikir dan berekspresi yang bersifat pribadi (privat) sedangkan religius dihubungkan dengan dunia beragama dan doktrin-doktrinnya yang bersifat publik.

Pada bulan Januari 2012, seorang pemuda Amerika Serikat Jefferson Bethke mempopulerkan gerakan SBNR dengan sebuah film YouTube “Kenapa aku memebenci agama dan mencintai Yesus". Dia menuding dan mengkritisi agama dengan sebutan dangkal dan hipokrit.

Banyak pihak memperingatkan bahwa mengabaikan agama adalah berbahaya karena adanya fitrah manusia terhadap doktrin dan kitab suci sebagai jalan menuju spiritualitas sejati. Bahkan penganut paham anti ketuhanan (atheis) ikut mengkritisi perkembangan ini.

Beberapa agama di dunia sangat kritis terhadap praktek spiritualitas tanpa agama. SBNR bisa memicu spiritualitas hampa yang mengejar kepuasan diri sendiri.

Pencegahan

Banyak generasi muda yang tidak mau disebut jauh dari agama. Untuk membuktikannya mereka terjun dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan charity. Mencintai lingkungan, membantu kemanusiaan, dan lain-lain. Namun jika terlibat dalam kegiatan yang berbau agama, rumah ibadah, pengajian, majelis taklim mereka menjauh dengan alasan tidak gaul dan tidak modern.

Jika ini dibiarkan mereka bisa terjerumus menjadi penganut SBNR. Merasa cukup dengan kebaikan-kebaikan dalam prilaku meski tidak mengamalkan perintah agama. Bisa saja dia rajn membantu sesama, menjaga kebersihan namun tidak mengerjakan shalat atau puasa.

Oleh karena itu, sejak dini anak-anak harus diperkenalkan dengan konsep beragama yang komprehensif. Ajaran agama yang lengkap dan utuh. Yang mengajarkan ibadah juga muamalah. Yang mengajarkan praktek-praktek ritual keagamaan namun juga akhlakul karimah terhadap sesama. Mencintai Allah dan Rasulullah SAW, termasuk juga mencintai sesama manusia. (rms)