Foto Balita Suriah Terdampar di Pantai Bikin Haru Penjuru Dunia

Seorang balita tewas terdampar di pantai kota Bodrum, Turki, setelah kapal yang mengangkutnya bersama rombongan pengungsi asal Suriah menuju pulau Kos, Yunani tenggelam (Foto: Reuters)

bersamaislam.com - Sebuah foto yang menampilkan sesosok mayat balita terdampar di tepi pantai salah satu kota destinasi wisata di Turki menjadi viral di media sosial pada Rabu (02/09/2015) dan memicu keprihatinan dunia.

Foto itu menunjukkan seorang balita kecil mengenakan baju kaus berwarna merah dan celana pendek biru dalam posisi telungkup di pasir pantai, kota pesisir Bodrum, Turki. Pada gambar berikutnya, seorang polisi dengan wajah sedih mengangat jenazah balita malang tersebut.

Tagar "KiyiyaVuranInsanlik" dan "humanity washed ashore" sontak menjadi trending topik dunia di twitter. Bahkan hanya dalam beberapa jam, foto tersebut sudah di retweet ribuan kali.

Dikutip dari Reuter, Rabu (02/09/2015), media-media di Turki mengidentifikasi balita itu sebagai Aylan Kurdi, usia 3 tahun yang tewas bersama saudaranya yang berusia 5 tahun setelah kapal yang ditumpanginya tenggelam. Setidaknya 12 orang dari rombongan mereka tewas saat mencoba berlayar menuju pulau Kos di Yunani.

Disebutkan mereka adalah pengungsi dari kota Kobani, Suriah Utara yang dekat dengan perbatasan Turki, lokasi tempat berlangsungnya pertempuran antara ISIS dan pejuang Kurdi beberapa bulan yang lalu.

Sebanyak 23 orang pengungsi Suriah mencoba menyeberang dengan menggunakan dua buah kapal kecil. Mereka berangkat secara terpisah dari daerah Akyarlar semenanjung Bodrum, ungkap seorang pejabat senior angkatan laut Turki.

Jumlah korban tewas yang sudah dapat diidentifikasi sebanyak lima orang anak-anak dan 1 orang wanita. Tujuh orang berhasil diselamatkan dan dua lainnya berhasil mencapai pantai dengan mengenakan pelampung. Pejabat itu mengatakan kecil harapan menyelamatkan dua orang yang masih hilang.

Tentara pemerintahan Turki mengatakan tim pencarian telah menyelamatkan ratusan pengungsi di lautan antara Turki dan Yunani dalam beberapa hari ini. Sekitar sepuluh ribu pengungsi Suriah melarikan diri dari perang yang berkecamuk di negara mereka melalui pesisir Aegean di Turki untuk menuju Yunani sebelum meneruskannya ke Eropa.

Dalam pernyataan yang disampaikan Rabu (02/09/2015), Dewan Keamanan Nasional Turki menyatakan keprihatinannya atas kebijakan imigrasi dari negara-negara Eropa.

"Kekhawatiran negara-negara Eropa terhadap gelombang pengungsi telah menyebabkan duka mendalam dan ini harus dievaluasi dan diangkat sebagai permasalahan hak azasi manusia (HAM)," bunyi pernyataan tersebut.

Seorang polisi Turki membawa jenazah balita yang jatuh saat mencoba menyeberang ke pulau Kos dengan keluarganya (Foto: Reuters) 
Badan-badan bantuan Internasional memperkirakan, setidaknya 2000 orang pengungsi setiap harinya mencoba melakukan penyeberangan ke pulau-pulau di bagian timur Yunani dengan menggunakan perahu karet. Ini sudah berlangsung dalam sebulan terakhir.

Opini yang berkembang di Eropa terhadap para pengungsi asal Suriah terpecah. Para fans sepak bola di Jerman membentang spanduk berbunyi "selamat datang pengungsi" pada sebuah pertandingan. Sementara di Inggris, sebuah surat kabar menyebut para migran dengan sebutan "kecoak".

Turki sendiri di masa Erdogan telah menampung hampir dua juta pengungsi asal Suriah dan Irak yang menjadi korban kekejaman rezim pemerintahan kedua negara tersebut. Setelah itu, giliran Kanselir Jerman yang mengizinkan para pengungsi memasuki negaranya. (rz/Reuter)