Dilahap Si Jago Merah, 448 Keluarga Muslim Rohingya Kehilangan Rumah

Muslim Rohingya di Sittwe, Rakhine negara Burma dilanda musibah kebakaran membuat 448 keluarga kehilangan tempat tinggal
Musibah kebakaran di Sittwe 

bersamaislam.com Yangon - Muslim Rohingya kembali didera musibah. Kamp pengungsi muslim Rohingya di Sittwe, Rakhine negara Burma, dilahap si jago merah pada Selasa (3/5). Musibah kebakaran ini membuat sekitar 448 keluarga pengungsi kehilangan tempat tinggal sementaranya, sehingga mereka terpaksa menjadi pengungsi untuk kedua kalinya.

Kejadian tersebut terjadi di pagi hari, peristiwa ini menambah penderitaan hidup bagi pengungsi Rohingya di kamp kumuh di negara bagian Rakhine.

Seperti dilansir AFP, pihak berwenang mengatakan bahwa api dipicu oleh meledaknya kompor yang sedang digunakan untuk memasak di kamp Bawdupa dekat ibukota negara bagian Sittwe dan angin kencang membuat penyebaran api dari rumah ke rumah semakin tidak terkendali.

Seorang petugas polisi setempat mengatakan api baru padam setelah menghanguskan sebanyak 448 tempat tinggal keluarga.

"Kami masih memeriksa apakah ada korban luka-luka. Kami belum tahu berapa banyak jelasnya berapa orang yang menjadi tunawisma, tapi LSM lokal sedang bekerja memantau di sana," kata polisi tersebut, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.

Sebanyak 140.000 orang, terutama warga Rohingya, terpaksa menghuni kamp-kamp pengungsian kumuh tersebut karena mereka diusir dari rumah mereka oleh gerombolan umat Buddha sejak empat tahun lalu.

Konflik itu membuat negara bagian Rahkine terluka, dan membuat masyarakat muslim di sana mengalami kemunduran ekonomi yang sangat signifikan.

Tragedi tersebut dipicu oleh sikap penganut Buddha di Myanmar, yang tidak setuju agama Islam berkembang dengan pesat di daerah itu dalam beberapa tahun terakhir.

Muslim Rohingya Rakhine diberi label "Bengal" oleh penganut Buddha garis keras dan oleh sebagian besar pejabat pemerintah setempat. Mereka dianggap sebagai imigran ilegal dari Bangladesh meskipun banyak dari mereka mempunyai nenek moyang asli dari Myanmar.

Mereka dihadapkan dengan sikap apartheid pihak pemerintah Myanmar seperti pembatasan akses pekerjaan, pendidikan dan kesehatan. Akhirnya ribuan warga melakukan perjalanan dengan perahu yang sangat berbahaya untuk mencari kehidupan yang lebih baik di wilayah Malaysia dan Indonesia.

Bulan lalu setidaknya 20 Muslim dari kamp pengungsian Rakhine tenggelam saat perahu mereka terbalik di perairan berombak saat bepergian ke pasar kota Sittwe.

Para penumpang mengatakan bahwa mereka dipaksa oleh petugas setempat untuk beralih ke rute laut, yang merupakan rute yang sangat berbahaya, karena mereka dilarang bepergian melalui jalan darat.