Satu Jenazah Dua Doa Kepada Dua Tuhan

Ilustrasi

bersamaislam.com - Ini bukan cerita orang yang menduakan Tuhan. Bukan pula tentang poligami aqidah. Justru ini adalah cerita tentang kerukunan antar umat beragama. Ketika mayoritas mengayomi yang minoritas. Pun sebaliknya, ketika minoritas menghormati yang mayoritas.

Jamak sudah diketahui, Sumatera Utara adalah propinsi yang dianggap menjadi daerah percontohan dalam hal kerukunan dan toleransi antar umat beragama. Sebagian masyarakat menilai karena kuatnya nilai-nilai adat istiadat di daerah ini. Terutama pada suku-suku Batak, Karo, Mandailing, dan lainnya yang serumpun.

"Berterombonya masih kuat," kata orang Sumut menggambarkan kuatnya ikatan silsilah dalam keluarga besar meskipun berbeda agama dan keyakinan.

Alkisah diceritakan sebuah keluarga dengan lima orang anak. Dua laki-laki dan tiga perempuan. Mereka menganut agama Kristen.

Setelah dewasa kedua anak laki-laki menjadi muallaf dan memeluk agama Islam. Keduanya menjadi muslim yang taat, bahkan salah seorang di antaranya sudah bersiap untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Sementara ketiga yang lain tetap pada keyakinan semula. Bahkan salah seorang anak perempuan mendapat suami seorang Pendeta yang taat.

Setelah kepergian sang Bapak, Ibu yang sudah mulai uzur tinggal dengan anak lelaki tertua. Bersama cucu-cucu kesayangannya. Ibu tetap dalam keyakinannya sebagai penganut nasrani sedangkan anak dan cucu yang menemaninya adalah keluarga muslim.

Mereka tetap hidup rukun dan saling menyayangi. Jika bulan Ramadhan, sang Ibu sering ikut memasak untuk makan sahur. Demikian juga ketika lebaran Idul Fithri, seluruh keluarga besar akan berkumpul termasuk ketiga anak perempuan dan keluarganya menikmati hidangan lontong dan ketupat lebaran bersama.

Sesekali jika sang Ibu tidak kuat bepergian sendiri, anak atau cucu akan mengantarkannya ke Gereja untuk mengikuti kebaktian di hari Minggu pagi. Hingga suatu hari...

Allah telah memanggil sang anak laki-laki lebih dulu kehadapannya. Seluruh keluarga besar berduka. Sang Ibu terlebih lagi, dia menangis tersedu-sedu, mengingat umurnya yang jauh lebih tua, tetapi harus menyaksikan putranya menghembuskan nafas yang terakhir.

Pihak tetangga dan kerabat diberi kabar atas kematian ini. Pengurus mesjid terdekat diberitahukan untuk segera diselenggarakan fardhu kifayah penyelenggaraan jenazah. Tentu keluarga besar akan mensholatkan dan mengebumikannya sebagai seorang muslim.

Selesai dimandikan dan dikafankan, jenazah disemayamkan di ruang tengah rumah duka menunggu jadwal pemakaman yang dikoordinir pihak mesjid. Sambil menunggu, para tamu bergantian datang mendoakan. Ibu-ibu berinisiatif membaca Yasin dan surat-surat lain dalam Al Qur'an di samping jenazah.

Saat itulah, salah seorang saudara perempuan berbisik kepada istri almarhum agar mereka diizinkan memberikan doa dan penghormatan terakhir kalinya kepada Abang tertua yang sangat disayanginya. Setelah bermusyawarah sesaat, lalu seluruh keluarga muslim beringsut mundur, menjauh dari ruang tengah dan memberi kesempatan kepada keluarga yang beragama Kristen untuk berkumpul di sekitar jenazah.

Seorang Pendeta (ipar dari almarhum) berdiri mengambil ancang-ancang. Dia kemudian memberi sambutan pembukaan lalu memimpin doa yang diaminkan oleh seluruh keluarga Kristen.

Menyaksikan peristiwa ini rasanya seperti melihat acara mimbar agama Kristen di Gereja. Namun tidak ada yang menolak dan protes, karena yang berdoa adalah keluarga dekat dengan almarhum dan sudah meminta izin kepada keluarga besar.

Jadilah sang jenazah diminta keselamatan dengan dua doa kepada dua Tuhan.

(Razas Ms)