Anak Nakal Ada Sebabnya, Bagaimana Jika Orang Tua Yang Nakal?

Ilustrasi (img: dreamstime)

bersamaislam.com - Saya mencintai anak-anak, itu alasan yang saya rasa sudah cukup untuk bisa bertahan mengajar sekolah taman kanak-kanak selama bertahun-tahun. Pekerjaan yang sepele bagi sebagian orang dan tidak mudah menurut sebagian yang lain. Bagi saya ini pekerjaan luar bisa nan mulia, bukan sekedar tepuk-tepuk tangan, bernyanyi lalu pulang dan setiap bulan terima gajian.

Ya, mengajar dan mendidik anak-anak itu bukan pekerjaan biasa, kalau kita tidak punya cinta bisa-bisa mundur teratur. Sebab hanya orang-orang yang punya cinta mampu bertahan dalam segala keadaan. Bahkan cinta saja pun hampir tidak cukup jika kita tidak punya ilmu atau paling tidak punya kemauan untuk belajar. Belajar mengenal anak-anak, belajar memahami dunia mereka, belajar memahami arti tangisan mereka, belajar setiap tangis dan gerak-gerik mereka. Dengan kata lain, belajar mencintai mereka, mencintai anak-anak.

Setelah belajar kita tidak akan lagi mengatakan, “anak-anak itu menyebalkan, anak-anak itu nakal, anak-anak itu merepotkan, bisanya cuma nangis, berantem, rebutan ini itu,  dll...” Kenapa? Karena setelah belajar, kita akan tahu dan sadar. Tahu bahwa ternyata anak-anak tidak sesederhana itu. Sadar bahwa anak-anak tidak seburuk yang ada dalam pikiran kita sebelumnya.

Kita akan mengerti kenapa seorang anak bisa menangis, berteriak histeris menginginkan sesuatu bahkan bisa mengatasi tangisannya dan membuatnya tidak menangis lagi. Kita akan mengerti mengapa seorang anak bisa berperilaku nakal dan mungkin lebih parah dari itu. Sebab setiap anak punya alasan kenapa mereka menangis, kenapa mereka tertawa, kenapa mereka berperilaku menyimpang dan lain sebagainya. Selalu ada alasan di balik sebuah tangisan.

Saya pernah lihat ibu-ibu memarahi anaknya, mengatai anaknya habis-habisan sambil dicubit-cubit. Tapi anaknya diam saja, menunduk. Saya tidak tahu pasti apa yang telah dilakukan sang anak. Tapi menurut pengamatan saya waktu itu, si ibu merasa malu karena kelakuan anaknya yang membuat anak orang lain menangis (padahal anak-anak yang bertengkar tidak pernah paham dia sedang bertengkar, menangis adalah fitrah mereka ketika merasa tidak nyaman).

Saya lalu bertanya, si ibu marah karena anaknya nakal atau karena ia merasa malu? Hal seperti ini seringkali terjadi, tanpa bertanya lebih dulu latar belakang masalah kita sudah buru-buru marah dan memvonis anak kita salah. Padahal kita juga tidak tahu bagaimana kronologi kejadiannya, sudah tidak tahu tidak pula mau bertanya. Malah buru-buru menarik kasar tangan sang anak yang masih halus.

Bukankah anak-anak nakal tentu ada sebabnya? Bisa jadi kita selaku orang dewasa lah yang salah memberi teladan atau tidak bisa memberi contoh yang baik sehingga anak-anak hanya mampu mengadopsi hal-hal buruk yang dilihatnya.

Anak-anak nakal karena ada alasannya, dan bisa jadi kitalah alasan atas kenakalan mereka.

Bisa jadi kita lupa mengajarkannya untuk tidak membalas setiap perbuatan buruk karena bersabar dan memaafkan adalah hal yang lebih mulia.

Sama halnya dengan kita yang hari ini mengaku orang dewasa. Kita juga selalu punya alasan setiap kali kita membuat tindakan. Bahkan kita pun sering melakukan kenakalan-kenakalan yang sebenarnya kita tahu tidak boleh dilakukan.

Coba tanya bapak-bapak perokok, mereka pasti tahu bahwa merokok itu merusak kesehatan. Tanya para pemakai narkoba, mereka pasti tahu obat terlarang itu merusak jiwa dan masa depan. Tanya orang-orang yang tidak sholat, meninggalkan sholat itu berdosa bagi muslim yang sudah dewasa. Tanya orang-orang yang suka menghambur-hamburkan waktu, harta dan hidupnya untuk hal yang tidak berguna, maka dengan sadar mereka akan mengakui kekeliruannya.

Ya, itulah keburukan orang dewasa yang dilakukan secara sengaja dengan pengetahuan yang cukup. Mereka kadang tahu sesuatu itu tidak boleh tapi tetap mereka lakukan. Mereka sudah mengerti mana baik dan mana buruk untuk hidupnya tapi tetap melakukan keburukan. Mereka sudah mampu membedakan mana benar dan mana salah tapi tetap sering melakukan kesalahan. Bukankah itu namanya juga nakal?

Nah, berbeda dengan anak-anak. Anak-anak menjadi nakal (sudut pandang kita orang dewasa) karena mereka belum mengerti mana baik dan mana buruk. Anak-anak belum berakal sehingga mereka tidak bisa membedakan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Bukankah kalau melakukan kesalahan karena tidak tahu berarti tidak apa-apa? Bukankah tidak berdosa? Ya, Tuhan saja bilang begitu. Masa kita bilang ini sebuah kenakalan?

Kalau menurut kita anak melakukan sebuah kesalahan, tunjukkan perilaku yang benarnya bagaimana. Kalau kita melihat anak melakukan keburukan, tunjukkan perilaku benarnya seperti apa. Selalu beri penjelasan setiap kita melarang sesuatu pada anak dengan alasan yang benar dan dengan bahasa yang bisa mereka pahami. Tidak lantas kita mengatakan “ Jangan begini, jangan begitu, bla bla bla...” lalu marah-marah, memukul tangannya tanpa sebuah penjelasan kenapa dia tidak boleh melakukan hal itu.

Kalau kita mendapati anak berperilaku tidak baik, tugas kitalah para orang dewasa untuk memberi tahu mereka mana yang baik dan buruk itu. Tugas kitalah memberi teladan dan tuntunan yang baik. Tugas kita pula mengarahkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sehingga mereka, anak-anak itu mengerti dan memiliki pemahaman hidup yang baik.

Lah kalau kitanya yang sudah segede ini masih nakal, piye?

Semoga kita bisa menjadi sekolah bagi setiap anak sehingga ketika mereka datang menghampiri kita, ada ilmu yang bisa kita beri, ada kebaikan yang bisa kita tularkan dan ada teladan yang selalu bisa kita ajarkan. Semoga kita juga bisa menjadi rumah bagi setiap anak. Sehingga kapan pun mereka butuh tempat berlindung, kita mampu memberi rasa aman bagi mereka.

Sehingga mereka aman dari tangan kasar kita, aman dari lisan buruk kita, aman dari mata-mata yang melotot, aman dari segala amarah kita. Lalu menatap mereka dengan penuh kasih sayang. Sebab suatu saat atau bahkan mungkin hari ini kita akan menjadi orangtua untuk anak-anak kita. Maka jadilah orangtua yang penuh cinta.

(Vivi Suriani)