Duhai Ukhti, Kenapa Ada Bulu Mata Palsu di Acara Walimahanmu?

Ilustrasi (Foto: Poskostudio86)

bersamaislam.com - Akhwat adalah bentuk jamak dari ukhtun, artinya saudara (perempuan). Akhwat di sini bisa bermakna saudara dalam keluarga ataupun saudara dalam arti yang lebih luas. Seperti saudara seiman, saudara sekampung, atau lainnya. Kita sering memanggilnya ukhti (saudaraku) jika sendiri atau akhwati jika jamak.

Namun di Indonesia sendiri, akhwat memiliki pengertian yang lebih spesial. Tidak hanya sekedar saudara perempuan atau wanita. Sapaan akhwat ini biasanya melekat pada wanita-wanita muslimah aktivis dakwah baik itu di kampus maupun di masyarakat luas yang memiliki ciri-ciri berjilbab syar’i, berpakaian longgar, memakai kaos kaki, sederhana dalam berbusana (tidak berlebihan), menghindari make up, tempat nongkrongnya adalah majelis-majelis ilmu, rajin sholat (wajib dan sunnah), puasa, baca Qur’an, dan lain-lain. Dan kalau say hello selalu dengan "Assalamu’alaikum..." lebih dulu. Kalau kata teman-teman zaman SMA dulu, mereka adalah bidadari dunia.

Akhwat yang kita kenal dengan keseharian sederhana dan tidak bertabarruj dalam kehidupan sehari-hari ini sungguh menawan dengan kesederhanaannya. Menawan dengan apa adanya dan tetap cantik tanpa maskara. Namun sayangnya, mereka yang selalu mendakwahkan Islam, mereka yang mampu menjaga penampilan dan cara berpakaian yang sesuai syari'at ini, kebanyakan gagal mempertahankan "kesyar’i-an" itu justru di hari yang berkah, di hari yang harusnya tidak terkotori oleh hal-hal subhat apalagi sampai pada hal yang haram, yaitu hari resepsi pernikahan (walimatul ‘ursy).

Yang ingin saya sorot di sini adalah soal bulu mata palsu yang kerap menjadi penghias wajah saat akhwat akan naik ke pelaminan.

"Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan meminta rambutnya disambung." (Shahih al-Bukhari, no: 5934)

Ini menjadi sebuah dilema di kalangan akhwat yang akan menikah. Terkadang, bukan keinginan mereka untuk memakai bulu mata palsu saat menikah namun permintaan keluarga terlebih orang tua yang kekeuh agar putrinya tampil beda dan makin cantik dan mereka (para akhwat) tidak memiliki daya untuk menolaknya.

Kita harus menentukan konsep seperti apa resepsi pernikahan kita nantinya dan membincangkannya pada orangtua agar mereka paham sehingga mengerti dengan sendirinya apa yang boleh dan tidak boleh. Karena itu sebenarnya, menikah butuh persiapan jauh-jauh hari bahkan sebelum adanya proses ta’aruf atau lamaran.

Sayang kan, kalau proses ta’arufnya sudah sesuai syari’at namun saat hari H kita gagal memperjuangkan syari’at di momen yang hanya sekali seumur hidup?

Berikut langkah-langkah yang bisa ukhti-ukhti lakukan untuk menghindari hal tersebut, yaitu:

1 - Dekati ibu

Kenapa ibu? Karena ibu adalah kunci suksesnya pernikahan kita. Sebab ibulah yang biasanya mempersiapkan semua hal yang berhubungan dengan resepsi pernikahan putrinya, dari mulai membeli/mengadakan pakaian pengantin, sewa tenda dan pelaminan, dekorasi, konsumsi, dan lain-lain. Nah, kalau kita sudah jalin komunikasi yang baik dengan ibu jauh-jauh hari, Insya Allah kalau pun ada salah satu dari keluarga yang komplain dengan penampilan kita saat walimah, tidak akan berarti apa-apa selama ibu merestui.

2 - Minta bantuan Ayah

Ayah adalah sosok yang paling cocok diajak bicara dan bekerja sama. Karena Ayah biasanya selalu menggunakan logika sehingga mudah menerima alasan dan penjelasan serta tidak terlalu repot dan khawatir dengan kalimat "gimana kata orang, pengantin kok ga pake make up, kan ga papa sekali-kali pakai bulu mata palsu..., bla bla bla..." Minta bantuan ayah jika terasa sulit menjelaskan pada ibu. Sebab bagaimana pun, ayah adalah orang yang paling mengenal karakter ibu jauh sebelum kita dilahirkan.

3 - Bicara dari hati ke hati

Dalam hal ini, kita harus belajar dari kisah Nabi Ibrahim yang begitu santun pada orangtuanya padahal ia tahu bahwa bapak ibunya adalah penyembah berhala dan tidak beriman pada Allah. Namun beliau tetap berbicara dan menjelaskan dengan bahasanya penuh cinta saat orangtuanya menentang keimanannya.

4 - Berdo’a

Perbanyak sujud dan memohon kemudahan pada Allah. Sesungguhnya yang mampu membolakbalikkan hati adalah Allah, maka mintalah agar Allah melembutkan dan melunakkan hati orang-orang yang sulit sekali diajak bekerjasama untuk menciptakan resepsi yang sesuai syari’at. Baik konsep pernikahan, tempat tamu, pelaminan, pakaian pengantin, make up, dan lain-lain.

5 - Yakin dan berbaik sangka pada Allah
 
Kalau kita sudah berdoa, sudah berusaha dengan segenap kemampuan, maka kita harus yakin dengan apa yang kita doakan pada-Nya. Yakin Allah pasti memberi jalan, yakin Allah pasti memudahkan, yakin Allah akan mengabulkan doa baik kita dan berbaik sangka atas segalanya, karena Allah bersama prasangka hamba-Nya.

Intinya, fenomena bulu mata palsu ini bisa dihindari bahkan sangat mungkin dihindari bila kita sudah membicarakan dan menjelaskannya pada keluarga dan orang tua jauh-jauh hari. Maka, semakin cepat kita bincangkan akan semakin baik dan Insya Allah orang tua akan semakin mengerti bagaimana konsep pernikahan yang islami sesungguhnya. Selamat mencoba. Semoga bermanfaat.

(Vivi Suriani)